Kita telah menyelesaikan bagian pertama pelajaran itu. Aku mengacu kepada para filosof alam dan tindakan mereka untuk tegas-tegas menjauhkan diri dari gambaran mitologis dunia. Kini, kita akan bertemu dengan tiga filosof klasik besar: Socrates, Plato, dan Aristoteles. Masing-masing dengan caranya sendiri, para filosof ini memengaruhi seluruh peradaban Eropa. Para filosof alam itu juga disebut pra-Socrates, sebab mereka hidup sebelum zaman Socrates. Meskipun Democritus meninggal beberapa tahun setelah Socrates, semua gagasannya termasuk filsafat alam pra-Socrates. Socrates mewakili suatu era baru, secara geografis maupun temporal.
Dia adalah filosof besar pertama yang dilahirkan di Athena, dan baik dia maupun kedua penerusnya hidup dan bekerja di sana. Kamu mungkin ingat bahwa Anaxagoras juga hidup di Athena sebentar, tetapi kemudian diusir keluar, sebab dia mengatakan bahwa matahari adalah sebuah batu merah panas. (Nasib Socrates tidak lebih baik!)
Sejak zaman Socrates, Athena merupakan pusat kebudayaan Yunani. Juga penting untuk dicatat perubahan karakter dalam proyek filsafat itu sendiri, sementara ia berkembang dari filsafat alam hingga Socrates. Tapi, sebelum kita menemui Socrates, mari kita ketahui sedikit tentang kaum Sophis, yang menguasai panggung Athena pada masa hidup Socrates.
Manusia sebagai Pusat Setelah sekitar 450 SM, Athena merupakan pusat kebudayaan di dunia Yunani. Sejak masa ini, filsafat mengambil arah baru. Para filosof alam hanya memusatkan perhatian pada hakikat dunia fisik semata. Karena itulah mereka menempati posisi sentral dalam sejarah sains. Di Athena, minat kini dipusatkan pada individu dan kedudukannya dalam masyarakat. Secara lambat laun, demokrasi berkembang, dengan majelis-majelis rakyat dan pengadilan hukum. Agar demokrasi dapat dijalankan, orang-orang harus cukup berpendidikan agar dapat ambil bagian dalam proses demokrasi. Kita telah melihat di zaman kita sendiri bagaimana demokrasi yang masih muda membutuhkan keterbukaan pikiran masyarakat. Bagi para penduduk Athena, yang paling penting adalah menguasai seni berpidato, yang berarti mengatakan berbagai hal dengan cara yang meyakinkan.
Sekelompok guru dan filosof keliling dari koloni-koloni Yunani berkumpul di Athena. Mereka menamakan diri kaum Sophis. Kata "sophis" berarti seseorang yang bijaksana dan berpengetahuan. Di Athena, kaum Sophis mencari nafkah dengan mengajar para warga negara dengan imbalan uang. Kaum Sophis mempunyai satu ciri yang sama dengan para filosof alam: mereka bersikap kritis terhadap mitologi tradisional. Namun pada saat yang sama, kaum Sophis menolak apa yang mereka anggap sebagai spekulasi filsafat yang tak berguna. Mereka berpendapat bahwa meskipun ada jawaban untuk pertanyaan filosofis, manusia tidak dapat mengetahui kebenaran mengenai teka-teki alam dan jagat raya. Dalam filsafat, pandangan seperti ini dinamakan skeptisisme. Namun bahkan jika kita tidak dapat mengetahui jawaban seluruh teka-teki alam, kita tahu bahwa orang-orang harus belajar untuk hidup bermasyarakat. Kaum Sophis memilih untuk menyibukkan diri mereka dengan masalah manusia dan kedudukannya dalam masyarakat. "Manusia adalah ukuran dari segala sesuatu," kata seorang Sophis Protagoras (kira-kira 485-410 SM). Dengan itu, yang dimaksudkannya adalah bahwa masalah, apakah sesuatu itu benar atau salah, baik atau buruk, harus selalu dipertimbangkan dalam kaitannya dengan kebutuhan-kebutuhan seseorang. Ketika ditanya apakah dia percaya kepada para dewa Yunani, dia menjawab, "Pertanyaan itu terlalu kompleks sedangkan hidup ini terlalu singkat." Seseorang yang tidak mampu mengatakan dengan tegas apakah dewa-dewa atau Tuhan itu ada dinamakan seorang agnostik.
Kaum Sophis biasanya orang-orang yang telah banyak bepergian dan melihat berbagai bentuk pemerintahan. Baik aturan maupun hukum setempat di negara-negara kota bisa sangat beragam. Ini mendorong kaum Sophis untuk bertanya apakah yang alamiah dan apa yang diharuskan karena desakan dari masyarakat. Dengan melakukan ini, mereka merintis jalan bagi timbulnya kritik sosial di negara-kota Athena. Misalnya, mereka dapat mengemukakan bahwa penggunaan ungkapan seperti "kesopanan alamiah" tidak selalu dapat dipertahankan, sebab jika memang kesopanan itu "alamiah", mestinya itu adalah sesuatu yang terlahir bersama kita, suatu bawaan lahir. Tapi apakah itu memang bawaan lahir, ataukah itu karena desakan masyarakat? Bagi seseorang yang telah menjelajahi dunia, jawabannya mestinya sederhana: Adalah tidak "alamiah"—atau bukan bawaan lahir—jika kita merasa malu bertelanjang di tempat umum. Sopan atau tidak—jelas merupakan masalah aturan sosial.
Seperti yang dapat kamu bayangkan, kaum musafir Sophis itu menciptakan pergulatan sengit di Athena dengan mengemukakan bahwa tidak ada norma mutlak untuk menentukan apa yang benar dan apa yang salah. Socrates, sebaliknya, berusaha untuk membuktikan bahwa beberapa norma itu sesungguhnya mutlak dan secara universal benar.
a. Tahun Kelahiran Filosof
Socrates (470-399 SM) barangkali adalah tokoh paling penuh teka-teki dalam seluruh sejarah filsafat. Dia tidak pernah menulis sebaris kalimat pun. Namun, dia merupakan salah seorang filosof yang mempunyai pengaruh paling besar terhadap pemikiran Eropa, dan itu sama sekali bukan karena cara kematiannya yang dramatis. Kita tahu dia dilahirkan di Athena, dan bahwa dia men¬ jalani sebagian besar hidupnya di alun-alun dan pasar-pasar untuk berbicara dengan orang-orang yang ditemuinya di sana. "Pohon-pohon di daerah pedesaan tidak mengajarkan apa-apa padaku," katanya.
Dia juga dapat tenggelam dalam pemikiran selama berjam-jam tanpa henti. Bahkan pada masa hidupnya, dia dianggap agak membingungkan, dan tak lama setelah kematiannya, dia dianggap sebagai pendiri sejumlah aliran pemikiran filsafat yang berbeda-beda. Kenyataan bahwa dia begitu penuh teka-teki dan membingungkan telah memungkinkan berbagai aliran pemikiran yang berlainan untuk menyatakan dia sebagai pendirinya.
Kita tahu pasti bahwa dia sangat buruk rupa. Perutnya gendut, matanya menonjol, dan hidungnya pendek serta besar. Namun dikatakan bahwa batinnya "sangat bahagia". Juga dikatakan bahwa "Anda dapat menemukannya pada masa sekarang, Anda dapat menemukannya di masa lampau, tapi Anda tidak akan pernah menemukan padanannya." Sekalipun demikian dia dihukum mati karena aktivitas filsafatnya.
Kehidupan Socrates hanya dapat kita ketahui melalui tulisan-tulisan Plato, yaitu salah seorang muridnya dan yang menjadi salah satu filosof terbesar sepanjang masa. Plato menulis sejumlah Dialog , atau diskusi-diskusi yang didramatisasi mengenai filsafat, tempat dia menggunakan Socrates sebagai tokoh utama dan juru bicaranya. Karena Plato menyuarakan filsafatnya sendiri melalui mulut Socrates, kita tidak dapat yakin apakah kata-kata dalam dialog-dialog itu benar-benar pernah diucapkan olehnya. Maka, tidak mudah untuk membedakan antara ajaran-ajaran Socrates dan filsafat Plato. Masalah yang sama menimpa banyak tokoh sejarah lain yang tidak meninggalkan penjelasan tertulis. Contoh klasik, tentu saja, adalah Yesus.
Kita tidak dapat merasa yakin bahwa Yesus "dalam sejarah" itu benar-benar mengucapkan kata-kata yang dinyatakan oleh Matias dan Lukas berasal darinya. Begitu pula, apa yang sesungguhnya diucapkan oleh Socrates "dalam sejarah" akan selalu diliputi misteri. Namun, siapa Socrates "sesungguhnya", relatif tidak penting. Penggambaran Plato mengenai Socrates itulah yang telah mengilhami para pemikir di dunia Barat selama hampir 2.500 tahun.
b. Seni Berdiskusi
Hakikat seni Socrates terletak dalam fakta bahwa dia tidak ingin menggurui orang. Sebaliknya, dia memberi kesan sebagai seseorang yang selalu ingin belajar dari orang-orang lain yang diajaknya berbicara. Jadi, bukannya memberi kuliah seperti layaknya seorang guru tradisional, dia mengajak berdiskusi. Tentu saja dia tidak mungkin dapat menjadi seorang filosof termasyhur kalau dia membatasi diri dengan hanya mendengarkan orang-orang lain. Dia pun tidak akan dihukum mati jika begitu.Tapi, dia hanya mengajukan pertanyaan-pertanyaan, terutama untuk memulai percakapan, seakan-akan dia tidak mengetahui apa-apa. Dalam diskusi itu, dia biasanya berhasil membuat para penentangnya mengakui kelemahan argumen-argumen mereka, dan, karena tersudut, mereka akhirnya menyadari apa yang benar dan apa yang salah.
Socrates, yang ibunya adalah seorang bidan, sering mengatakan bahwa ilmunya itu seperti ilmu bidan. Dia tidak melahirkan sendiri anak itu, tetapi dia ada untuk membantu selama kelahiran. Begitu pula, Socrates menganggap tugasnya seperti membantu orang-orang ''melahirkan" wawasan yang benar, sebab pemahaman yang sejati harus timbul dari dalam diri sendiri. Itu tidak dapat ditanamkan oleh orang lain. Dan hanya pemahaman yang timbul dari dalam itulah yang dapat menuntun kepada wawasan yang benar.
Akan aku kemukakan dengan lebih jelas: Kemampuan untuk melahirkan adalah suatu ciri alamiah. Dengan cara yang sama, setiap orang dapat menangkap kebenaran-kebenaran filosofis jika mereka mau menggunakan akal mereka sendiri. Menggunakan akal sendiri berarti masuk ke dalam diri sendiri dan memanfaatkan apa yang ada di sana. Dengan berlagak bodoh, Socrates memaksa orang-orang yang ditemuinya untuk menggunakan akal sehat mereka. Socrates dapat berpura-pura bodoh—atau menunjukkan dirinya lebih tolol daripada yang sebenarnya. Kita menamakan ini ironi Socrates. Ini memungkinkannya untuk terus mengungkap kelemahan pemikiran orang-orang. Dia tidak keberatan untuk melakukan ini di tengah alun-alun kota. Jika kamu bertemu Socrates, kamu mungkin akan dipermalukan di depan publik.
Maka tidaklah mengherankan bahwa, sejalan dengan berlalunya waktu, orang-orang menganggapnya sangat menjengkelkan, terutama orang-orang yang mempunyai kedudukan tinggi dalam masyarakat. "Athena itu seperti seekor kuda yang lembam," demikian perkataannya yang sangat terkenal, "dan akulah pengganggu yang menyengatnya agar beringas."
c. Suara Ilahi
Bukan maksudnya untuk menyiksa sesama makhluk jika Socrates terus menyengat mereka. Suara hatinya tidak memberinya pilihan lain. Dia selalu mengatakan bahwa dia menyimpan "suara Ilahi" dalam dirinya. Socrates mengajukan protes, misalnya, terhadap tindakan menghukum mati orang. Dia juga menolak untuk memberi informasi kepada mu¬ suh-musuh politiknya. Inilah yang akhirnya membuatnya kehilangan nyawa.
Pada 399 SM, dia didakwa "memperkenalkan dewa-dewa baru dan merusak kaum muda", serta tidak memercayai dewa-dewa yang telah diterima. Dengan mayoritas tipis, juri yang terdiri dari lima ratus orang menyatakannya bersalah.
Besar kemungkinan dia dapat mengajukan kelonggaran. Setidak-tidaknya, dia dapat menyelamatkan nyawanya dengan setuju untuk meninggalkan Athena. Tapi kalau dia melakukan ini, dia bukanlah Socrates. Dia menghargai hati nuraninya—dan kebenaran—lebih tinggi dibandingkan dengan nyawanya sendiri. Dia meyakinkan juri bahwa dia hanya bertindak demi kepentingan negara. Namun, dia tetap dihukum untuk meminum racun cemara.Tak lama kemudian, dia minum racun itu di hadapan sahabat-sahabatnya, dan meninggal.
d. Proyek Filsafat Socrates
Socrates hidup pada masa yang sama dengan para Sophis. Seperti mereka, dia lebih berminat pada masalah manusia dan tempatnya di dalam masyarakat daripada masalah kekuatan alam. Sebagaimana dikatakan oleh seorang filosof Roma, Cicero, mengenai dirinya beberapa ratus tahun kemudian, Socrates "menurunkan filsafat dari langit, mengantarkannya ke kota-kota, memperkenalkannya ke rumah- rumah, dan memaksanya untuk menelaah kehidupan, etika, kebaikan, dan kejahatan".
Tapi, Socrates berbeda dari para Sophis dalam satu hal yang sangat penting. Dia tidak menganggap dirinya sebagai seorang "sophis"—yaitu, seseorang yang pandai dan bijaksana. Tidak seperti kaum Sophis, dia mengajar bukan untuk mendapatkan uang. Tidak, Socrates menyebut dirinya seorang filosof dalam pengertian yang sebenarnya dari kata itu. Kata "filosof" sesungguhnya berarti "orang yang mencintai kebijaksanaan".
Perbedaan antara seorang sophis dan seorang filosof. Kaum Sophis mendapatkan uang untuk penjelasan- penjelasan mereka yang ruwet, dan sophis semacam ini telah ada sejak zaman prasejarah. Aku mengacu pada semua guru sekolah dan orang yang menganggap dirinya tahu segalanya, yang sudah puas dengan sedikit pengetahuan yang mereka miliki, atau yang membual bahwa mereka mengetahui segala hal mengenai subjek-subjek yang sedikitpun tidak mereka ketahui. Sedangkan seorang filosof sejati, sama sekali berbeda—sangat berkebalikan, sesungguhnya. Seorang filosof mengetahui bahwa dalam kenyataannya hanya sedikit yang diketahuinya. Itulah sebabnya dia selalu berusaha untuk meraih pengetahuan sejati.
Socrates adalah salah seorang manusia langka ini. Dia tahu bahwa dia tidak tahu apa-apa tentang kehidupan dan dunia. Dan kini muncul bagian yang penting: dia merasa gelisah karena hanya sedikit sekali yang diketahuinya. Oleh karena itu, filosof adalah seseorang yang mengakui bahwa ada banyak hal yang tidak dipahaminya, dan dia merasa terganggu karenanya. Dalam pengertian itu, dia masih lebih bijaksana daripada semua orang yang membual tentang pengetahuan mereka mengenai segala sesuatu yang tidak mereka ketahui. "Orang yang paling bijaksana adalah yang mengetahui bahwa dia tidak tahu".
Socrates sendiri berkata, "Hanya satu yang aku tahu, yaitu bahwa aku tidak tahu apa-apa." Ingat pernyataan ini, sebab itu adalah pengakuan yang langka, bahkan di kalangan para filosof. Lagi pula, bisa berbahaya sekali mengucapkan itu di depan umum karena nyawamu jadi taruhannya. Orang yang paling subversif adalah yang selalu bertanya. Memberi jawaban tidaklah begitu berbahaya. Mengajukan satu pertanyaan dapat lebih memancing ledakan dibandingkan dengan seribu jawaban.
e. Sang badut athena
Socrates adalah badut ini di Athena. Sebab Dia tidak merasa yakin dan tidak pula acuh tak acuh. Yang diketahuinya hanyalah bahwa dia tidak tahu apa-apa—dan hal ini mengganggunya. Maka, dia menjadi filosof—orang yang tidak mau menyerah, tetapi terus berusaha tanpa kenal lelah mencari kebenaran.
Diceritakan bahwa seorang penduduk Athena pernah bertanya kepada peramal di Delphi tentang siapakah manusia yang paling bijaksana di Athena. Sang peramal menjawab bahwa Socrates adalah yang paling bijaksana dari semua manusia. Ketika Socrates mendengar ini, dia sangat terkejut.
Dia pergi mendatangi seseorang di kota yang oleh dirinya, maupun semua orang lainnya, dianggap sangat bijaksana. Tapi ketika ternyata orang ini tidak mampu memberi Socrates jawaban yang memuaskan terhadap pertanyaannya, Socrates sadar bahwa peramal itu benar. Socrates merasa adalah penting untuk membangun landasan yang kuat untuk pengetahuan kita. Dia percaya bahwa landasan ini terletak pada akal manusia. Dengan keyakinannya yang tak tergoyahkan pada akal manusia, jelaslah bahwa dia seorang rasionalis.
“Wawasan yang Benar Menuntun pada tindakan yang Benar” Seperti telah kusebutkan sebelumnya, Socrates menyatakan bahwa dia dituntun oleh suara batin Ilahi, dan bahwa "hati nurani" ini mengatakan kepadanya apa yang benar. "Orang yang mengetahui apa yang baik akan berbuat baik," katanya, Dengan ini, yang dimaksudkannya adalah bahwa wawasan yang benar akan menuntun pada tindakan yang benar.
Dan hanya orang yang bertindak benar sajalah yang dapat menjadi "orang yang berbudi luhur". Jika kita melakukan kesalahan, itu karena kita tidak tahu. Itulah sebabnya penting sekali untuk terus belajar. Socrates berusaha untuk menemukan definisi-definisi yang jelas dan secara universal diterima mengenai benar dan salah. Tidak seperti kaum Sophis, dia percaya bahwa kemampuan untuk membedakan benar dan salah terletak pada akal manusia, bukan masyarakat.
Socrates menganggap bahwa tidak mungkin seseorang dapat bahagia jika mereka bertindak menentang penilaian mereka yang lebih baik. Dan orang yang tahu cara meraih kebahagiaan akan melakukan hal itu. Oleh karena itu, orang yang tahu apa yang benar akan bertindak benar. Sebab, untuk apa orang memilih menjadi tidak bahagia? jalani kehidupan yang bahagia jika kamu terus melakukan hal-hal yang jauh di lubuk hati kamu tahu salah? Banyak sekali orang yang berbohong dan menipu dan menjelek-jelekkan orang lain. Apakah mereka sadar bahwa semua ini tidak benar—atau tidak adil? Apakah kamu pikir orang-orang ini bahagia? Menurut Socrates tidak.

Comments
Post a Comment