Skip to main content

Memahami Pemikiran Filsafat Alam atau dikenal sebagai Filsafat PraSocrates

 Filsafat Alam

Kita sudah membicarakan tentang produk para filosof awal, dimana fokus kajian mereka tentang proses alam raya ini menjadi ada dan memunculkan banyak perubahan perubahan adalah ketidak percayaan mereka bahwa segala hal yang ada bukan ada semata, melainkan, mereka yakin bahwa tidak akan mungkin segala sesuatu akan menjadi ada jika tidak memiliki sumber atau tidak mungkin segala sesuatu ada dengan sendirinya. Sumber inilah yang mereka yakini sebagai awal segala sesuatu menjadi ada. Sumber yang dimaksudnya dapat diartikan sebagai zat dasar untuk menciptakan segala sesuatu.

Olehnya itu, para tokoh filosof awal lebih menempatkan perhatian mereka kepada zat tersebut. Tapi untuk membenarkan teori mereka apakah memang disampaikan oleh mereka masihlah perlu menempatkan sebuah sikap skeptis. Sebab para filosof awal tidak tertarik untuk menuliskan teori teori mereka dan barulah pada dua abad setelahnya para filosof baru yang muncul memulai proyek teori mereka dalam sebuah tulisan.    

Sekitar 585 SM, seorang filosof bernama Thales yang berasal dari Miletus, sebuah koloni Yunani di Asia kecil, yang dikisahkan bahwa dia adalah seorang pengelana. Thales beranggapan bahwa sumber dari segala sesuatu adalah air. Kita tidak tahu pasti apa yang dimaksudkannya dengan itu, dia mungkin percaya bahwa seluruh kehidupan berasal dari air dan seluruh kehidupan kembali ke air ketika sudah berakhir . Ataukah Thales mengambil kesimpulan tersebut dengan berdasar pada tanah yang menumbuhkan segala macam tumbuhan yang hidup setelah hujan, dan bagaimana seekor binatang yang kehausan akan mencari air. 

Thales juga beranggapan bahwa “semua benda itu penuh dengan dewa dewa”. Tapi, dewa dewa yang di maksud Thales ini tidak sama dengan dewa dewa mitologis yang di anut oleh orang orang Yunani pada waktu itu, melainkan, mungkin Thales beranggapan demikian setelah pengamatannya terhadap tanah tersebut yang memunculkan berbagai macam makhluk dan akan kembali kepada tanah setelah mereka mati dan kemudian melahirkan kehidupan baru setelah tanah tersebut  dibasahi oleh air.

Satu zaman dengan Thales, yaitu Anaximender datang dengan sebuah teori yang sangat membingunkan dimana ia berangggapan bahwa dunia kita hanyalah salah satu dari banyak sekali dunia yang muncul dan sirna di dalam sesuatu yang disebutnya sebagai yang tak terbatas .

Boleh dikatakan, bahwa Anaximender telah mengambil satu langkah lebih maju dari seorang Thales karena ia sampai pada suatu pemahaman bahwa “tidak akan mungkin segala sesuatu yang ada dan dapat sirna ini akan sama dengan yang menciptakannya karena semua ciptaan tersebut berbeda dengan penciptanya, maka pastilah yang menciptakan sesuatu itu berasal dari suatu zat yang ia namakan (Tak Terbatas)”.

Selanjutnya adalah Anaximenes (570-526 SM) yang datang dengan suatu teori tentang zat dasar segala sesuatu dapat menjadi ada. Dia beranggapan bahwa sumber dari segala sesuatu pastilah "udara" atau "uap". Tentu anggapan ini tidaklah jauh berbeda dengan apa yang telah dikemukakan oleh Thales, tapi menurut jika segala sesuatu dapat muncul dari dalam tanah setelah hujan turun, maka sebelum air hujan itu jatuh, ia dipadatkan terlebih dahulu di udara. Dia huga beranggapan bahwa tanah dan api adalah sesuatu yang juga dipadatkan. Bagi Anaximenes, baik Air, Tanah, Api dan udara, kesemuanya dibutuhkan sebab semua saling memiliki hubungan untuk menciptakan sesuatu. Sehingga dari ke empat inilah udara adalah sumbernya ketiganya yang menjadi zat dasar segala sesuatu dapat menjadi ada.

Berangkat dari ketiga sosok inilah filsafat mengambil peranan penting dalam mengeksplorasi alam semesta tentang zat dasar menjadikannya ada, sehingga dalam perkembangannya filsafat mulai mengambil peran penting dalam kebudayaan Yunani pada waktu itu. Itu terbukti setelah banyak kelompok yang mulai tertarik untuk mempelajarinya.

Sekita tahun 500 SM, sekolompok filosof dari Yunani Elea di bagian Italia selatan datang dengan konsep yang berbeda pula, mereka semakin tertarik tentang suatu pertanyaan yang sering menggeluyut dalam pikiran filosof awal “apakah sesuatu dapat muncul dari ketiadaan? – atau apakah sesuatu memang telah ada dan sudah semestinya ada dan kekal abadi?”.

Salah satu filsuf yang paling keras mempertahankan pemikirannya mengenai pertanyaan pertanyaan ini adalah Parmenides (kira-kira 540-480 SM) . Parmenides beranggapan bahwa segala sesuatu yang ada pasti telah selalu ada. Dia sepakat dengan kebanyakan orang orang Yunani yang menganggap bahwa tidak ada sesuatu yang muncul dari ketiadaan sebab segala sesuatu memang telah ada dan selayaknya ada sebagai sesuatu yang abadi.

Ia lebih jauh kedalam proyek penelitiannya terhadap gagasan gagasan tersebut, bahwa segala sesuatu itu telah ada dan tidak akan pernah menjadi tiada. Ia juga menolak suatu gagasan bahwa alam itu telah terjadi perubahan yang secara aktual. Bagi Parmedines tidak ada sesuatu yang dapat berubah dan berbeda dari yang sebelumnya. Meskipun ia sadari bahwa banyak perubahan perubahan yang telah terjadi di alam.

Parmedines menolak semua hal itu dan lebih tergantung pada gagasan gagasan tentang tidak ada sesuatu apapun yang dapat berubah dengan menggantungkan dasar keyakinannya terhadap pemikiran yang lahir dari akalnya. Sebab ia sadar bahwa yang berubah hanyalah apa yang ditangkap oleh indra indra manusia, gambaran yang diberikan oleh indra indra tersebut tidak sesuai dengan apa yang telah akal manusia gambarkan mengenai dunia. Boleh jadi Parmedines mengambil kesimpulan itu disebabkan seringkalinya indra indra manusia keliru dalam menafsirkan perubahan alam raya. Sehingga dari persoalan tersebut kita bisa memasukkan sosok Parmedines sebagai seorang yang sangat Rasionalis dimana gagasan gagasannya tidak akan tergoyahkan oleh apa yang di tangkap indra indranya dan lebih menggantungkan dirinya pada apa yang dikemukakan oleh akalnya. Dia mengatakan bahwa Tugas seorang manusia hanyalah mengungkapkan segala bentuk ilusi perseptual.

Rekan sezaman Parmenides adalah Heraclitus (kira-kira 540-480 SM) , yang berasal dari Ephesus di Asia Kecil. Dia beranggapan bahwa perubahan terus-menerus, atau aliran, sesungguhnya merupakan ciri alam yang paling mendasar.  Barangkali dapat kita katakan bahwa Heraclitus mempunyai keyakinan lebih besar pada apa yang dapat dirasakannya daripada Parmenides. 

"Segala sesuatu terus mengalir," kata Heraclitus. Segala sesuatu mengalami perubahan terus-menerus dan selalu bergerak, tidak ada yang menetap. Oleh karena itu, kita "tidak dapat melangkah dua kali ke dalam sungai yang sama". Kalau aku melangkah ke dalam sungai untuk kedua kalinya, aku atau sungainya sudah berubah. 

Heraclitus mengemukakan bahwa dunia itu dicirikan dengan adanya kebalikan. Jika tidak pernah sakit, kita tidak tahu seperti apa rasanya sehat. Jika tidak mengenal kelaparan, kita tidak akan merasakan senangnya menjadi kenyang. Jika tidak pernah ada perang, kita tidak dapat menghargai perdamaian. Dan jika tidak ada musim salju, kita tidak akan pernah melihat musim semi. 

Yang baik maupun yang buruk mempunyai tempat sendiri-sendiri yang tak terelakkan dalam tatanan dari segala sesuatu, demikian keyakinan Heraclitus.Tanpa saling pengaruh antara dua hal yang berkebalikan itu, maka dunia tidak akan pernah ada. 

Tuhan adalah siang dan malam, musim salju dan musim panas, perang dan damai, kelaparan dan kekenyangan," katanya. Dia menggunakan istilah "Tuhan", namun jelas dia tidak mengacu pada dewa-dewa dalam mitologi. Bagi Heraclitus, Tuhan—atau Dewa—adalah sesuatu yang mencakup seluruh dunia. Sesungguhnyalah, Tuhan dapat dilihat paling jelas dalam perubahan dan pertentangan alam yang terjadi terus- menerus. 

Sebagai ganti istilah "Tuhan", Heraclitus sering menggunakan kata Yunani logos, yang berarti akal. Meskipun kita, manusia, tidak selalu berpikir sama atau mempunyai tingkatan akal yang sama, Heraclitus yakin bahwa ada semacam "akal universal" yang menuntun segala sesuatu yang terjadi di alam. 

"Akal universal" atau "hukum universal" ini adalah sesuatu yang ada dalam diri kita semua, dan sesuatu yang menjadi penuntun setiap orang. Namun, toh, kebanyakan manusia hidup dengan akal mereka masing-masing, pikir Heraclitus. Secara umum, dia merendahkan rekan-rekannya sesama manusia. "Pendapat dari kebanyakan orang," katanya, "adalah seperti mainan bayi." 

Maka, di tengah segala perubahan dan pertentangan yang terus-menerus terjadi di alam ini, Heraclitus melihat adanya satu Entitas atau kesatuan. "Sesuatu" ini, yang merupakan sumber dari segala sesuatu, dinamakannya Tuhan.

Selanjutnya adalah Empedocles (kira-kira 490-430 SM)  meyakini tentang zat dasar itu terdiri dari empat unsur, atau "akar" sebagaimana dia mengistilahkan. Keempat akar ini adalah tanah, udara, api, dan air. Semua proses alam disebabkan oleh menyatu atau terpisahnya keempat unsur ini. Sebab, semua benda merupakan campuran dari tanah, udara, api, dan air, tetapi dalam proporsi yang beragam. Jika sekuntum bunga atau seekor binatang mati, katanya, keempat unsur itu terpisah lagi. Kita dapat mengamati perubahan-perubahan ini dengan mata telanjang. Namun, tanah dan udara, api dan air tetap abadi, "tak tersentuh" oleh semua campuran yang di dalamnya mereka menjadi bagiannya. Maka tidak benar jika dikatakan bahwa "segala sesuatu" berubah. Pada dasarnya, tidak ada yang berubah. Yang terjadi adalah bahwa keempat unsur itu tergabung dan terpisah untuk menjadi tergabung lagi. 

Setelah Empedocles menjelaskan perubahan alam sebagai bersatu dan berpisahnya keempat "akar", masih ada lagi yang harus dijelaskan. Apa yang membuat unsur- unsur ini menyatu sehingga tercipta kehidupan baru? Dan, apa yang membuat "campuran" dari, katakanlah, sekuntum bunga, terpisah lagi? 

Empedocles yakin bahwa ada dua kekuatan yang bekerja di alam. Dia menyebutnya cinta dan perselisihan. Cinta mengikat segala sesuatu, dan perselisihan memisahkannya. 

Dia membedakan antara "zat" dan "kekuatan". Ini patut dicatat. Bahkan kini, para ilmuwan membedakan antara unsur dan kekuatan alam. Sains modern berpendapat bahwa semua proses alam dapat dijelaskan sebagai interaksi antara unsur-unsur yang berbeda dan kekuatan-kekuatan alam yang beragam.

Selanjutnya adalah Anaxagoras (500-428 SM) adalah filosof lain yang tidak setuju bahwa satu bahan dasar tertentu—air, misalnya—dapat diubah menjadi segala sesuatu yang kita lihat di alam ini. Dia juga tidak dapat menerima bahwa tanah, udara, api, dan air dapat diubah menjadi darah dan tulang. 

Anaxagoras berpendapat bahwa alam diciptakan dari partikel-partikel sangat kecil yang tak dapat dilihat mata dan jumlahnya tak terhingga. Lebih jauh, segala sesuatu dapat dibagi menjadi bagian-bagian yang jauh lebih kecil lagi, tetapi bahkan dalam bagian yang paling kecil masih ada pecahan- pecahan dari semua yang lain. Jika kulit dan tulang bukan merupakan perubahan dari sesuatu yang lain, pasti ada kulit dan tulang, menurutnya, dalam susu yang kita minum dan makanan yang kita santap.

Lalu ada lagi seorang filosof besar yang bernama Democritus (kira-kira 460-370 SM) . Dia berasal dari kota kecil Abdera di pantai utara Aegea. Democritus setuju dengan para pendahulunya bahwa perubahan-perubahan alam tidak mungkin disebabkan oleh kenyataan bahwa segala sesuatu sungguh-sungguh "berubah". Oleh karena itu, dia beranggapan bahwa segala sesuatu dibuat dari balok-balok tak terlihat yang sangat kecil, yang masing-masing kekal dan abadi. Democritus menamakan unit-unit terkecil ini atom. 

Kata a-tom berarti "tak dapat dipotong". Bagi Democritus adalah sangat penting untuk menekankan bahwa bagian-bagian pokok yang membentuk segala sesuatu tidak mungkin dibagi secara tak terhingga menjadi bagian-bagian yang lebih kecil lagi. Jika ini mungkin, mereka tidak dapat digunakan sebagai balok-balok pembentuk. Jika atom selamanya dapat dipecah menjadi bagian-bagian yang lebih kecil, alam akan hancur bagaikan sup yang kebanyakan air.

Democritus percaya bahwa alam terdiri dari atom-atom yang jumlahnya tak terhingga dan beragam. Sebagian bulat dan mulus, yang lain tak beraturan dan bergerigi. Dan justrukarena saling berbeda, mereka dapat menyatu menjadi berbagai bentuk yang berlainan. Namun, meskipun jumlah dan bentuk mereka mungkin tak terbatas, mereka semua kekal, abadi, dan tak terbagi.

Jika sebuah benda—sebuah pohon atau seekor binatang, misalnya—mati dan hancur, atom-atomnya terurai dan dapat digunakan lagi untuk membentuk benda-benda yang lain. Atom bergerak acak di angkasa, Tapi, karena mempunyai "kait" dan "mata kait", mereka dapat menyatu untuk membentuk segala macam benda yang kita lihat di sekeliling kita. 

Maka kini, kamu tahu apa maksudku dengan balok-balok Lego. Mereka mempunyai sifat yang kira-kira sama seperti yang dinamakan atom oleh Democritus. Dan itulah yang membuat mereka sangat gampang untuk disusun. Pertama dan terutama, mereka tidak dapat dibagi. Selanjutnya, mereka mempunyai bentuk dan ukuran yang berbeda-beda. 

Mereka padat dan kedap. Mereka juga mempunyai "kait" dan "mata kait" sehingga dapat disambung-sambungkan untuk menyusun bentuk apa saja. Sambungan-sambungan itu nanti dapat dilepas lagi sehingga bentuk-bentuk baru dapat disusun dari balok-balok yang sama. Kenyataan bahwa mereka dapat digunakan berkali-kali itulah yang membuat Lego begitu populer. Setiap bagian balok Lego dapat menjadi bagian dari sebuah truk hari ini dan bagian dari sebuah kastil besok. Kita juga dapat mengatakan bahwa balok-balok Lego itu "abadi". Anak-anak sekarang dapat bermain dengan balok yang sama sebagaimana kedua orangtua mereka dulu ketika mereka masih kecil. 

Kita juga dapat membuat benda-benda dari lempung, tapi lempung tidak dapat digunakan berulang-ulang, sebab ia dapat terbagi menjadi bagian-bagian yang lebih kecil \dan lebih kecil lagi. Bagian-bagian yang sangat kecil ini tidak akan pernah dapat disatukan lagi untuk membuat sesuatu yang lain. 

Kini, kita dapat menyatakan bahwa teori atom Demo.- critus kurang lebih benar. Alam memang tersusun dari "atom-atom" yang berbeda yang menyatu dan terpisah lagi. Sebuah atom hidrogen dalam sebuah sel di ujung hidungku dulu pernah menjadi bagian dari belalai seekor gajah. Sebuah atom karbon di otot jantungku pernah berada di ekor dinosaurus. 

Namun pada zaman kita sekarang, para ilmuwan telah menemukan bahwa atom dapat dipecah menjadi "partikel elementer" yang lebih kecil. Kita menyebut partikel elementer ini proton, neutron, dan elektron. Mereka mungkin, suatu hari nanti, dapat dibagi menjadi partikel-partikel yang lebih kecil lagi. Namun, para ahli fisika sepakat bahwa batas itu pasti ada. Tentu ada "bagian minimal" yang darinyalah alam tersusun. Democritus tidak memiliki peralatan elektronik modern. Satu-satunya peralatan yang dimilikinya hanyalah otaknya. Namun penalaran membuatnya tidak mempunyai pilihan. Begitu diterima bahwa tidak ada sesuatu yang dapat berubah, bahwa tidak ada sesuatu yang dapat muncul dari ketiadaan, dan bahwa tidak ada sesuatu yang dapat hilang, maka kesimpulannya, alam pasti terdiri dari balok-balok sangat kecil yang dapat menyatu dan memisah lagi. 

Democritus tidak percaya pada "kekuatan" atau "jiwa" yang dapat ikut campur dalam proses alam. Satu-satunya benda yang ada, dia yakin, adalah atom dan ruang hampa. Karena dia tidak memercayai apa pun kecuali benda-benda material, kita menyebutnya seorang materialis. Menurut Democritus, tidak ada "desain" yang disengaja dalam gerakan atom. Di alam, segala sesuatu terjadi secara mekanis saja. Ini tidak berarti bahwa segala sesuatu terjadi secara acak, atau segala sesuatu mau tak mau mematuhi hukum-hukum yang pasti. Segala sesuatu yang terjadi mempunyai penyebab alamiah, yaitu penyebab yang menyatu dalam benda itu sendiri. Democritus pernah mengatakan bahwa dia lebih suka menemukan penyebab alam yang baru daripada menjadi Raja Persia. 

Teori atom juga menjelaskan persepsi indra kita, menurut Democritus. Jika kita merasakan sesuatu, itu karena gerakan atom di angkasa. Ketika aku melihat bulan, itu karena "atom- atom" bulan menyusupi mataku. Tapi, lalu bagaimana dengan "jiwa"? Mestinya tidak mungkin ia terdiri dari atom, dari benda-benda material? Tentu saja mungkin. Democritus yakin bahwa jiwa tersusun dari "atom-atom jiwa" yang halus dan bulat. Jika seorang manusia meninggal, atom-atom jiwa terbang ke segenap penjuru, dan selanjutnya dapat menjadi bagian dari formasi jiwa yang baru. 

Ini berarti bahwa manusia tidak mempunyai jiwa kekal, suatu keyakinan lain yang banyak dipercaya orang sekarang ini. Mereka percaya, seperti Democritus, bahwa "jiwa" ada hubungannya dengan otak, dan bahwa kita tidak mungkin memiliki bentuk kesadaran apa pun begitu otak hancur.


Comments

Popular posts from this blog

Pengertian Ada, Mimpi dan Gila

Pertama. "Ada sebagai ketiadaan atau ketiadaan itu adalah ada" Jadi maksudnya adalah ada adalah "Sesuatu yang memiliki bentuk, wujud dan rupa yang berada pada ruang dan waktu" Contohnya, Gelas ia ada karena memiliki bentuk dan wujud dan menempati ruang dan waktu. Sementara "Ketiadaan" juga merupakan ada karena ia menempati ruang dan waktu makanya dikatakan ada. Kedua "Mimpi" Dalam pandangan Filsuf B. Spinosa mimpi merupkan kejadian antara aku dan diriku yang sedang berada pada ruang dan waktu dimana aku melihat diriku sedang dan telah melakukan sesuatu di alam mimpi, kesadaran antara aku dan diriku telah mengambil perannya. Aku ada dalam dunia materil sedang diriku ada dalam alam mimpi. Ketiga. "Berpikir maka aku ada" Rene Descartes Yang dimaksud disini adalah ketika proses kerja akal berfungsi dalam mengenal dan memahami sesuatu maka pada saat itulah manusia menjadi ada sebagai eksistensi berpikirnya. Contohnya, aku dapat memaha...

Cara Menentukan Judul dan Tema Dalam Menulis Opini dan Essay

Mengenai menulis essay dan opini, saya yakin sebenarnya teman-teman sudah pada bisa semua. Kemampuan dasar untuk itu sedikit banyaknya pasti sudah ada. Karena baik di sekolah ataupun kampus kita sudah banyak menulis, bahkan sudah menulis makalah, yang notabenenya secara konten lebih berat dari pada essay dan opini. Nah, hanya saja di essay sedikit berbeda. Bedanya sedikit saja. Penulisan makalah di sekolah atau kampus pada umumnya yg sering kita lakukan itu tidak menumbuhkan kreatifitas sehingga seni menulis kurang terasah dan tidak terbudayakan. Menulis merupakan sebuah seni. Penulisan makalah di sekolah atau kampus terlalu kaku dan sedikit ruang kebebasan bagi mahasiswa atau siswa-siswi di sekolah. Karena judul makalah mayoritasnya sudah ditentukan. Jadi mahasiswa atau siswa-siswi tidak lagi mikir apa yg akan ditulis. Karena topiknya sudah ada di silabus yg dibuat oleh dosen/guru. Padahal, yang paling menantang dalam menulis adalah menemukan topik/idenya. Maka modal awal unt...

Konsep Ide Dalam Konteks Pemikiran Plato

• Akademi Plato  Plato (428-347 SM) berusia dua puluh sembilan tahun ketika Socrates minum racun cemara. Dia telah menjadi murid Socrates selama beberapa waktu dan telah mengikuti pengadilannya dengan cermat. Kenyataan bahwa Athena dapat menghukum mati warga negaranya yang paling mulia menimbulkan lebih dari sekadar kesan mendalam terhadapnya. Hal itu menciptakan jalan bagi seluruh upaya filosofisnya.  Bagi Plato, kematian Socrates merupakan contoh mencolok dari konflik yang dapat timbul antara masyarakat sebagaimana adanya dan masyarakat sejati atau ideal. Tindakan Plato yang pertama sebagai seorang filosof adalah me¬ nerbitkan karya Socrates, Apologi , suatu penjelasan tentang pembelaannya di hadapan juri.  Seperti yang pasti kamu ingat, Socrates tidak pernah menuliskan apa pun, meski banyak orang sebelum Socrates melakukannya. Masalahnya adalah hampir tidak ada lagi materi tertulis yang tertinggal. Namun dalam kasus Plato, kita yakin bahwa seluruh karya utamanya tela...