Skip to main content

Masih Bingung Dalam Belajar Filsafat? Kenalai Lebih Dahulu Produk Filsafat Awal

 PROLOG

Realitas alam semesta adalah sesuatu yang sangat membingunkan, dan tanpa kita sadari kita hidup di alam raya ini dimana proses pergerakannya yang terkadang tidak menentu. Bumi hanyalah salah satu planet di antara banyaknya planet yang mengelilingi matahari. Tapi pernahkah kita bertanya tentang berapa jarak tempuh antar setiap planet? Dan bagaimana cara untuk mentetahuinya?

Salah satu keberuntungan kita adalah hidup diperiode sekarang sebab kita sudah disuguhkan dengan penemuan penting ini oleh mereka mereka yang telah melepaskan rantainya dan memilih keluar untuk menemukan hidup baru, salah satu contohnya adalah penemuan teori untuk mengukur jarak antar setiap planet. Bahwa Alam raya bergerak berdasarkan menit – cahaya dan tahun – cahaya  sebagai syarat untuk mengukurnya. Satu menit cahaya adalah jarak yang ditempuh cahaya dalam satu menit, sedangkan dalam satu detik cahaya itu menempuh jarak 300.000 kilometer. Itu berarti  dalam satu menit – cahaya menempuh jarak 60 kali 300.000 – atau 18 juta kilometer.

Ini hanyalah bagian kecil dari beberapa penemuan itu, bisa kita bayankan bukan berapa banyak penemuan yang telah mereka ciptakan sampai saat ini? Tapi, sebagai seorang manusia yang juga ingin menciptakan sesuatu hal yang baru tentu kita tidak bisa tinggal diam bukan! Kita harus percaya bahwa masih ada sisa yang mereka tinggalkan untuk kita pahami, dan bahkan kalau itu menyangkut teka teki maka tugas kita sekarang adalah menemukan jawabannya.

Periode Filsafat

Adakah sesuatu yang menjadi ada dari ketiadaan? Bagaimanakah sesuatu itu dapat menjadi ada? Pertanyaan pertanyalah inilah yang menjadi dasar setiap manusia berhak untuk mengetahuinya. “Siapa yang tidak ingin mengetahui akan hal itu maka bersiaplah untuk hidup dalam ketiadaan ada itu sendiri”. Begitulah kutipan yang sering kita dapat dari seseorang ketika mempertanyakan akan hal itu, atau hal itupun berlaku saat kita berdialog dengan diri kita sendiri. Namun bukankah hal itu sesuatu yang luar biasa, sebab kita selangkah lebih maju dibanding dengan mereka yang tidak melakukan apa apa.

   Ya, kembali kebeberapa pertanyaan pertanyaan itu. Jika kita mempertanyakannya kepada seorang teologis, dia akan berkata bahwa “ada” sesuatu yang muncul dari ketiadaan dan dia bisa menciptakan sesuatu itu menjadi ada. Akan tetapi, jika kita bertanya kepada orang yang sebaliknya, ia akan berkata sebaliknya pula, hal itu didasarkan pada pemahamannya yang hanya mempercayai hal hal yang sesuai dengan realitas semata – atau hanya mempercayai sesuatu yang Nampak secara realitas semata. Orang yang berargumen tentang hal yang sebaliknya ini adalah orang menganut aliran materialisme dengan sandaran pemikirannya mengacu kepada apa yang dinamakan sebagai kaum empiris.

Namun akan berbeda ketika pertanyaan itu disampaikan kepada orang yang cenderung menempatkan gaya pemikirannya pada konsep logikanya. Ia akan menempatkan pertanyaan tersebut pada posisi yang berbeda – namun berlaku di antara dua realitas, antara realitas material dan realitas akalnya sehingga ia akan berkata bahwa pada ruang tertentu kita akan meyakini bahwa seorang bayi akan lahir setelah suami dan istri telah melakukan sesuatu eksperimen, dan dia juga akan berkata bahwa tidak akan selamanya hubungan badan antara suami dan istri dapat melahirkan sosok bayi, hal ini dipengaruhi oleh suatu keyakinan bahwa segala sesuatu memiliki sebab dan akibat setelahnya dan akan melahirkan akibat baru.

Pada beberapa argument berdasarkan perspektif yang berbeda kita akan sampai pada satu kesimpulan bahwa setiap manusia memiliki cara pandang berbeda terhadap suatu persoalan, dan sebagai manusia yang ingin mengetahui segala sesuatu tentu tidak menempatkan kepercayaannya terhadap suatu pernyataan sebelum ia lebih jauh tenggelam kedalam periode pencarian kebenaran akan jawaban itu agar supaya mencapai apa yang dinamakan seorang Fhilosophus. 

Jadi padanya kenyataanya, manjadi seorang philosophus haruslah berangkat dari beberapa pertanyaan dan memiliki kemauan yang kuat untuk mencari jawabannya. Sebab kebijaksanaan lahir setelah ia mendapatkan kebenaran, bukan!.

Inilah yang menjadi cikal bakal lahirnya pemikiran filsafat, dimana manusia menempatkan dirinya pada ketidakpercayaannya terhadap segala yang ada – atau nampak ada dengan sendirinya, melainkan, pasti ia memiliki sesuatu yang lain sehingga dapat menjadikannya ada terlepas dari beberapa pendapat yang telah ia peroleh. Sebab kebenaran dari suatu pertanyaan tidak muncul dari beberapa kumpulan jawaban jawaban dari satu atau dua orang, tetapi ia merupakan sesuatu yang lahir setelah tidak ada lagi jawaban setelahnya. Namun, apakah mungkin hal itu bisa kita peroleh? Ya, mengapa tidak? Bukankah kita harus mendapatkan jawaban final dari sesuatu yang kita mulai. Atau kita harus meninggalkan suatu pekerjaan untuk diteruskan kepada generasi berikutnya.

Sekitar 700 SM Filsafat awalnya mulai berkembang di Yunani, dimana pada masa itu dipenuhi dengan keyakinan dan sebuah mitos yang secara turun temurun telah diturunkan bahwa untuk mengatur kehidupan alam raya ini berjalan, adalah dewa. Dewalah yang mengambil peran penting terhadap keberlanjutan kehidupan di alam raya ini, sehingga manusia harus meyakini dewa dewa. Terhadap mitos dewa ini digambarkan dalam dua bentuk karakter, yaitu Dewa jahat dan Dewa Baik. Dan sering dikisahkan bahwa dewa kebaikan akan selalu melindungi kehidupan alam raya dan dewa kejahatan akan selalu merusak kehidupan alam raya.

Karena keyakinan akan dewa dewa ini telah diwariskan secara turun temurun. Banyak sekali manusia yang menetapkan keyakinannya sebagai arah baru kehidupan mereka pada alam raya terhadap dewa dewa. Keyakinan terhadap dewa ini terus berkembang keseluruh penjuru dunia dengan memunculkan banyak sekali dewa sebagai penetapan keyakinan manusia pada waktu itu. 

Jika kita membaca buku Dunia Shopie tentang sejarah peradaban Yunani terhadap mitos dewa tersebut, kita akan menjumpai beberapa mitos dewa yang mereka yakini, yaitu  dewa Zeus dan Apollo, Hera dan Athena, Dionysos dan Asklepios, Herakles dan Hephaestos, untuk menyebut sebagian di antaranya. Kebanyakan mitologi Yunani ditulis oleh Homer dan Hesiod. Ini menciptakan situasi yang sama sekali baru. Kini setelah mitos – mitos  itu berkembang dalam bentuk tulisan, terbuka kemungkinan untuk mendiskusikannya. Para filosof  Yunani paling awal mengecam mitologi Homer sebab para dewa terlalu menyerupai manusia dan sama egois dan sama curangnya. Untuk pertama kalinya dikatakan bahwa mitos-mitos itu tidak lain dari hasil pemikiran manusia. Salah seorang pendukung pandangan ini adalah filosof Xenophanes, yang hidup sekitar 570 SM. Manusia menciptakan dewa-dewa sesuai dengan bayangan mereka sendiri, katanya. 

Ketidak puasan terhadap keyakinan akan mitos mitos dewa yang berkembang pada waktu itu yang mungkin membuat Xenophanes memilih untuk tidak mempercayainya, disebabkan pada waktu itu gambaran tentang dewa menurutnya adalah hasil karya pemikiran manusia – atau dewa yang mereka yakini adalah hasil pemikiran manusia itu sendiri yang bisa beranak dan lain sebagainya. 

Produk Filsafat Awal

Berbicara mengenai produk, dalam bahasa ekonomi dia adalah sebuah barang, namun dalam telaah filsafat yang kita akan pelajari. Ia merupakan sebuah garis besar cara berpikir seseorang tehadap segala sesuatu dapat menjadi ada. Olehnya itu, rasa ingin tahu terhadap segala Sesutu diperlukan untuk mengetahui garis besar pemikiran mereka. Kita mungkin hidup diperiode zaman yang berbeda dengan lingkungan yang berbeda pula. Ada yang menjalani kehidupan sehari harinya dengan bertani, ada yang bekerja, atau seorang mahasiswa jurusan hukum, ataupun jurusan filsafat itu sendiri.

Lingkungan yang dihadapi seorang petani tent menyangkut tentang kehidupan persawahan, dunia pekerja tentu berhadapan dengan berkas berkas dalam balutan administrasi. Sementara seorang mahasiswa, dia memiliki dunia yang jauh lebih luas karena akan berhadapan dengan realitas yang sangat jauh berbeda meskipun ia terikat dengan suatu bidang ilmu sesuai dengan jurusan yang mereka pilih.

Kita akan focus pada kehidupan mahasiswa, sebab kehidupan filosof dahulu tidaklah jauh berbeda. Mahasiswa sekarang lebih cenderung belajar diruangan sementara seorang folosof belajar di alam. Tapi ada satu yang menghubungkan keduanya bahwa “belajar itu bukan dimana tempatnya dan siapa gurunya, tapi ia bisa dalam ruangan kehidupan yang tak mesti harus memilih tempat, dan seorang mahasiswa bisa mengambil peran ini agar ia bisa menyamai tingkat pemikiran seorang filosof”.

Letak perbedaannya dari keduanya, diruangan seorang mahasiwa hanya akan belajar tentang satu produk ilmu pengetahuan berdasarkan jurusan mereka. Sementara filosot belajar satu langkah lebih maju darinya karena mereka tidak membatasi dirinya dalam satu produk ilmu pengetahuan. Melainkan, ia jauh masuk keadalam ruangan ilmu pengetahuan itu sendiri dan mengunci dirinya disana. 

Begitulah gambaran cara berpikir seorang filosof, bahwa ia tidak ingin menempatkan dirinya hanya pada satu gagang pintu pengetahuan, akan tetapi ia lebih memilih masuk kedalam dan berusa membuka semua pintu pintu pengathuan. Contohnya, jika seorang filosof melihat air turun dari langit (hujan) ia akan mencari mengapa hal itu terjadi? Setelah ia mendapatkan jawabannya bahwa hujan terjadi karena air menguap keudara – atau kondensasi uap air di atmosfer menjadi butir air dan jatuh kedaratan. Maka ia tidak serta merta untuk berhenti disana, ia akan mulai memunculkan suatu pertanyaan baru, seperti mengapa air itu menguap? apakah air itu adalah sebuah zat? Dan apa zat itu?.

Pertanyaan pertanyaan inilah yang semakin mengusiknya sehingga seorang filosof lebih jauh kedalam untuk mengtahuinya. Begitulah yang dilakukan oleh para filosof awal, dimana mereka meyakini bahwa untuk mengetahui mengapai alam raya ini bisa ada pastilah berasal dari suatu zat yang menjadi sumber mereka menjadi ada. Jadi produk filsafat awal yunani pada waktu adalah mereka meyakini bahwa ada suatu zat yang menjadi sumber segala kehidupan ini terjadi. 


Comments

Popular posts from this blog

Pengertian Ada, Mimpi dan Gila

Pertama. "Ada sebagai ketiadaan atau ketiadaan itu adalah ada" Jadi maksudnya adalah ada adalah "Sesuatu yang memiliki bentuk, wujud dan rupa yang berada pada ruang dan waktu" Contohnya, Gelas ia ada karena memiliki bentuk dan wujud dan menempati ruang dan waktu. Sementara "Ketiadaan" juga merupakan ada karena ia menempati ruang dan waktu makanya dikatakan ada. Kedua "Mimpi" Dalam pandangan Filsuf B. Spinosa mimpi merupkan kejadian antara aku dan diriku yang sedang berada pada ruang dan waktu dimana aku melihat diriku sedang dan telah melakukan sesuatu di alam mimpi, kesadaran antara aku dan diriku telah mengambil perannya. Aku ada dalam dunia materil sedang diriku ada dalam alam mimpi. Ketiga. "Berpikir maka aku ada" Rene Descartes Yang dimaksud disini adalah ketika proses kerja akal berfungsi dalam mengenal dan memahami sesuatu maka pada saat itulah manusia menjadi ada sebagai eksistensi berpikirnya. Contohnya, aku dapat memaha...

Cara Menentukan Judul dan Tema Dalam Menulis Opini dan Essay

Mengenai menulis essay dan opini, saya yakin sebenarnya teman-teman sudah pada bisa semua. Kemampuan dasar untuk itu sedikit banyaknya pasti sudah ada. Karena baik di sekolah ataupun kampus kita sudah banyak menulis, bahkan sudah menulis makalah, yang notabenenya secara konten lebih berat dari pada essay dan opini. Nah, hanya saja di essay sedikit berbeda. Bedanya sedikit saja. Penulisan makalah di sekolah atau kampus pada umumnya yg sering kita lakukan itu tidak menumbuhkan kreatifitas sehingga seni menulis kurang terasah dan tidak terbudayakan. Menulis merupakan sebuah seni. Penulisan makalah di sekolah atau kampus terlalu kaku dan sedikit ruang kebebasan bagi mahasiswa atau siswa-siswi di sekolah. Karena judul makalah mayoritasnya sudah ditentukan. Jadi mahasiswa atau siswa-siswi tidak lagi mikir apa yg akan ditulis. Karena topiknya sudah ada di silabus yg dibuat oleh dosen/guru. Padahal, yang paling menantang dalam menulis adalah menemukan topik/idenya. Maka modal awal unt...

Kamu Jomblo, Baru Putus, Patah Hati, atau Selalu di Tolak? Jangan Takut.

Terkdang kita selalu merasa tidak pernah beruntung dalam menjalni hidup, terkadang kita iri dengan oang lain yang selalu mendapatkan apa yang ia inginkan, ataupun terkadang kita selalu menyalahkan waktu dan keadaan terhadap apa yang kita alami. Serasa dunia ini terlalu kejam untuk diri kita sendiri. Begitu banyak perasaan yang kita hadapi sehingga membuat kita selalu mengeluh dalam menjalni kehidupan ini. Hingga kita selalu mengatakan dunia ini kejam dan sangat keras untuk dijalani. Teruntuk teman-teman yang selalu merasakan hal demikan jangan tajut. Kenapa karna apa yang teman-teman rasakan itu adalah bunga kehidupan ataupun lika-liku kehidupan. Memang kita sebagai manusia memiliki berbagai perasaan dalam menjalani hidup ini. dan jangan merasa sendirian, karena saya pun meras demikian. Tapi bagaimana kita menghadapi dan menjalaninya dengan baik, yaitu dengan bersabar. Ketika teman-teman percaya dengan agama maka Tuhan pun sudah mengatur sedemikian rupa akan hal keadaan h...